Rabu, 30 Januari 2013

Taubat Seorang Artis Dan Penari Terkenal Mesir, Haalah ash-Shaafy

Seorang artis terkenal yang juga penari, Haalah ash-Shaafy menceritakan kisah kenapa ia meninggalkan karirnya di dunia seni dan memilih untuk bertaubat serta bagaimana ketenangan jiwa yang ia rasakan ketika kembali ke rumahnya dan ke kehidupannya. Dengan gaya bahasa yang amat menyentuh, ia menceritakannya dalam sebuah wawancara di salah sebuah majalah,

“Suatu hari, seperti biasa aku melakukan adegan menari di salah satu hotel terkenal di Cairo, Mesir. Saat menari, aku merasakan diriku seperti mayat dan boneka yang bergerak tanpa makna. Dan untuk pertama kalinya aku merasa malu ketika menyadari dalam pose setengah telanjang, menari di hadapan mata kaum lelaki dan di tengah-tengah gelas-gelas yang dihampar.

Lalu aku tinggalkan arena tersebut dan cepat-cepat pergi sembari menangis secara histeris menuju kamar gantiku dan mengenakan pakaianku kembali.

Selama hidupku, baru kali ini aku diliputi suatu perasaan yang belum pernah aku rasakan semenjak mulai menari dari usia 15 tahun lalu. Maka, aku pun segera berwudlu dan melakukan shalat. Ketika itu, untuk pertama kalinya pula aku merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Dan sejak hari itu, aku mengenakan hijab sekalipun masih banyak sekali tawaran-tawaran menggiurkan yang disodorkan kepadaku atau pun beragam ejekan dari sebagian orang. Aku pun melaksanakan manasik haji seraya berdiri dan menangis di hadapan ka’bah memohon kepada Allah kiranya mengampuni dosa-dosa yang telah aku lakukan pada hari-hari hitamku..”

Di akhir ceritanya yang menggugah hati, Halah berkata, “Haalah ash-Shaafy telah mati dan telah mengubur bersamanya masa lalunya. Ada pun saya sekarang ini adalah bernama Suhair ‘Abidin, Ummu Karim, pengasuh rumah, hidup bersama anak dan suamiku. Tetesan air mata penyesalan senantisa mendampingiku atas hari-hari yang dulu pernah aku lakukan dari usiaku, yang jauh dari Khaliq-ku Yang telah memberikan segala sesuatu kepadaku. Sesungguhnya, aku kini adalah bayi yang baru dilahirkan, aku merasakan ketenangan dan kedamaian setelah sebelumnya hanya perasaan cemas dan sedih yang menjadi temanku sekalipun kekayaan demikian melimpah, selalu bergadang malam dan bersenang-senang….Aku telah melakukan masa-masa yang lalu sebagai teman syetan, yang aku kenal hanya bersenang-senang dan menari. Aku telah hidup dalam kehidupan yang amat dibenci dan terhina. Syarafku selalu tegang tetapi sekarang aku merasa baru menjadi bayi kembali. Aku merasa berada di tangan yang begitu amanat, yang membelai kasih sayang dan mengucapkan selamat padaku…Yah, Tangan Allah SWT.,”

(SUMBER: al-‘Aaidaat Ilallaah, karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz al-Musnad, h.15-16, sebagai dinukil dari Majallah al-‘Arabiyyah, Volume 140) 

Allah Ta'ala Akan Memerangi Sifat Ghurur itu

Imam al-Mawardiy, salah seorang Ahli Fiqih Madzhab Syafi’i yang amat masyhur dan memiliki banyak karya menceritakan kisah dirinya, “Suatu hari, aku masuk masjid, lalu aku mengingat-ingat betapa luas ilmu yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadaku, lantas aku berkata pada diriku sendiri, ‘Apakah ada masalah-masalah di dalam fiqih yang tidak bisa aku jawab?.’ Kemudian aku masuk masjid dengan membawa sebagian sifat Ghurur (Membangga-banggakan diri sendiri). Tatkala aku duduk di hadapan para muridku, tiba-tiba datang seorang wanita tua renta bersama anak perempuannya, dia menghadap sembari berkata, ‘Wahai tuan guru, anak ini mengalami haidl dan kebiasaannya begini dan begini, maka berilah fatwa kepada kami, semoga Allah merahmatimu.’”

Al-Mawardiy melanjutkan, “Ternyata yang ditanyakan itu adalah masalah yang amat sepele sekali dari permasalahan haidl namun diriku sama sekali tidak bisa menjawabnya. Dan saking linglung dan tidak menentunya, sampai-sampai murid-muridku tercengang-cengang sehingga merekapun tidak dapat menjawabnya. Sementara nenek itu masih menunggu jawaban dariku namun aku tetap tidak bisa memberikan jawaban. Tatkala dia ingin keluar dari masjid, tiba-tiba berpapasan dengan salah seorang murid pemula, lantas dia bertanya kepada murid ini, ‘Semoga Allah merahmatimu, bagaimana pendapatmu mengenai seorang wanita yang mengalami haidl dan kebiasaannya begini dan begini?’ Lalu murid pemula ini dapat memberikan jawaban kepadanya dengan benar, sehingga nenek itu menyeletuk, ‘Kamu lebih baik dari orang yang duduk di sana itu!.”

Al-Mawardiy menuturkan lagi, “Akhirnya, tahulah aku bahwa Allah telah menghinakan diriku karena aku hanya bergantung kepada diriku sendiri dengan membangga-banggakannya.”

Kisah lainnya yang mirip adalah sebagaimana penuturan salah seorang pemuda yang shalih, dia berkata,
“Suatu hari aku mengikuti ujian dan aku yakin sekali bahwa materi-materi yang akan diujikan itu sudah aku kuasai dengan baik sehingga sifat Ghurûr menggelayuti diriku. Sebelum lembaran soal ujian datang, aku berkata pada diriku, ‘Soal apa sih yang ada di dalam kurikulum ini yang tidak bisa aku jawab?.’ Tatkala lembaran soal sudah berada di tanganku, ternyata aku merasa tidak satupun yang aku bisa. Akhirnya, jidatku dan seluruh tubuhku bersimbah keringat akibat adanya perasaan khawatir dan cemas. Hal itu berlangsung selama kurang lebih seperempat jam. Akhirnya aku tersadar bahwa barusan tadi sifat Ghurûr telah menggelayuti diriku dan aku telah bergantung kepada kekuatan diriku sendiri. Lalu secepatnya aku beristighfar atas hal itu dan bertaubat kepada Allah dari penyakit hati tersebut. Tak berapa lama dari itu, dari waktu yang tersisa, tiba-tiba menyelinap perasaan lega dan akhirnya Allah membukakan kembali pintu kemudahan sehingga aku dapat menjawab soal-soal ujian dengan mudah.”

(SUMBER: Qashash Wa Mawâqif Dzât ‘Ibar disusun oleh ‘آdil bin Muhammad Ali’Abdul ‘آly [h.7-8] sebagaimana yang dinukilnya dari Kisah dalam ceramah berjudul Dâ` al-Ghurûr [Penyakit Ghurûr] oleh Syaikh. Muhammad bin al-Mukhtâr asy-Syinqîthiy).

Penyakit Terkutuk Menyingkap ‘Aibku

Aku tidak tahu harus memulai rincian musibah yang menimpaku ini dari mana; apakah dari sejak aku kecil ketika aku dimanja kedua orangtuaku yang membelikan apa saja yang aku maui tanpa menolaknya sama sekali atau dari sejak aku sia-siakan seorang wanita yang begitu ikhlash akibat kebodohanku dan anakku yang hingga sekarang belum pernah aku lihat?.

Yah, musibah yang memiliki banyak aspek dan memerlukan rincian-rincian yang aku akan berusaha untuk meringkasnya dalam lembaran yang singkat sehingga orang lain dapat menjadikannya sebagai pelajaran dan tidak terjerumus ke dalam jebakan-jebakan yang telah merenggut kebahagiaanku dan mewariskan kesengsaraan dan kesialan serta menjadikan air mata tak henti-hentinya menetes ke pipiku…Cukuplah yang aku rasakan sekarang bahwa Rabbku tidak ridla terhadapku.

Aku hidup di bawah naungan keluarga yang demikian kaya. Sejak lulus dari SMP, kedua orangtuaku telah menghadiahkanku sebuah mobil baru. Dari sinilah aku belajar mengemudikan beberapa model mobil dan sering sekali melakukan balap dengan teman-temanku dan memenangkannya. Balapan itu kami lakukan di jalan-jalan raya dekat rencana pembangunan komplek baru. Setelah berhasil menyelesaikan kesarjanaan (S1), aku jadi sering menemani ayahku di dalam beberapa perjalanannya ke luar negeri untuk mengimpor suku cadang buat perusahaan yang dimilikinya. Ketika itu, aku selalu menghabiskan waktuku jauh dari pengamatan ayahku yang sibuk mengadakan beberapa kontrak dan meneken tender.

Pada suatu hari, ayahku memergokiku sedang menggandeng salah seorang wanita bule namun dia sama sekali tidak mengusikku akan tetapi setelah aku selesai melakukan affair dengan wanita itu, barulah dia menyampaikan keinginannya untuk menikahkanku dengan seorang wanita dari kalangan kerabat kami tanpa menyebutkan rincian sebab-sebab yang melatarbelakanginya karena tidak mau terganggu dengan tetek bengek lainnya. Aku pun menyetujui usulannya itu setelah mengetahui bahwa calon isteri yang dipilihkannya untukku itu memenuhi semua kriteria calon isteri yang aku idam-idamkan. Maka, dilaksanakanlah resepsi pernikahan secepatnya guna memenuhi keinginan ayahku itu. Selama masa berumahtangga dengan isiteriku itu, aku merasakan betapa dia seorang wanita yang cerdik sehingga menambah kecintaanku terhadapnya.

Selama setahun penuh, kehidupan di antara kami berlangsung dengan bahagia dan tenteram.

Kebahagiaanku semakin bertambah manakala isteriku menyampaikan berita gembira bahwa dia sudah hamil. Bersamaan dengan itu, ayahku mengalami sakit yang sangat serius sehingga harus terus terbujur di pembaringan. Akhirnya, aku harus bepergian ke luar negeri sendirian untuk mengadakan beberapa kontrak dan tender mewakilinya mengingat aku adalah anak tunggalnya.

Sekalipun kecintaanku begitu besar terhadap isteriku, namun kehidupan yang demikian bebas di sana (luar negeri) membuatku demikian tergoda sehingga menyebabkanku terjerumus kembali ke lubang maksiat dan melakukan affair dengan wanita-wanitanya. Dalam pada itu, aku tetap memberikan nafkah untuk isteriku dari jatah uang yang cukup besar yang telah dikhususkan oleh ayahku untukku dalam beberapa perjalanan tersebut.

Pada suatu hari, aku sangat kaget atas kemunculan bercak-bercak aneh di tubuhku. Ketika aku berkonsultasi dengan salah seorang dokter, dia memberitahukan bahwa aku mengidap penyakit ‘Hervest’. Dia menyebutkan beberapa obat untuk penyembuhannya disamping menyampaikan juga bahwa anggota badan yang terkena penyakit ini tidak akan segera hilang dalam beberapa hari tetapi perlu secara intensif berada dalam perawatan selama beberapa bulan.

Lalu aku pergi ke dokter-dokter lainnya di sana dengan maksud agar masalahku ini tidak terbongkar di tengah keluargaku dan di hadapan isteriku namun hasilnya tetap nihil. Menghadapi cobaan itu, tidak ada lagi jalan bagiku kecuali harus pulang ke negeriku dan berdusta kepada semua orang bahwa yang aku idap adalah penyakit kulit akibat sangat sensitif terhadap makanan-makanan Eropa.

Untuk beberapa waktu, isteriku tidak curiga terhadap kebohonganku itu karena dia begitu percaya dengan prilakuku akan tetapi dia memperhatikan diriku selalu menghindar bila bersentuhan dengannya atau tidur di sampingnya. Dan ketika dia berkonsultasi dengan salah seorang kerabatnya yang bekerja sebagai dokter, dia menginformasikan berita sebenarnya yang teramat menyakitkan. Dan begitu dia menghadapku guna mengklarifikasi apa yang telah didengarnya dari kerabatnya tersebut, aku tidak memiliki alasan lagi selain mengakui kesalahan yang telah aku perbuat. Di sinilah, isteriku menumpahkan kekesalannya dengan menangis dan bersumpah dengan sumpah yang keras akan meninggalkan rumahku tanpa menggubris permohonan dan permintaanku agar dia tidak menyingkap aib ini kepada anggota keluarga yang lain.

Demikianlah, prilaku menyimpangku itu akhirnya sampai juga ke keluargakku dan semakin bertambah lagi derita yang aku alami manakala aku harus menjadi tahanan di balik dinding salah satu kamar rumahku untuk masa lima bulan ke depan agar tidak ada seorangpun yang menyaksikan benjolan-benjolan yang menyebar di seluruh anggota tubuhku yang kemudian akan meniggalkan bekas di kulitku. Dan setelah Allah menyembuhkanku, ayahku meminta agar aku menceraikan isteriku itu karena dia menolak mentah-mentah untuk hidup kembali bersamaku sekalipun dia telah melahirkan keturunan dariku. Demikian pula, ayahku telah mencabut perwakilan yang telah diserahkannya kepadaku terkait dengan urusan kontrak dan tender bisnis dan menyampaikan kepadaku tekadnya untuk memutus hubungan denganku dan tidak lagi memberikan uang jajan untukku.

Begitulah, aku sekarang hidup sendirian dengan perasaan sedih, tidak seorangpun yang mau menyapaku, seorang tahanan empat dinding rumahku. Setiap kali aku teringat dengan anakku yang belum pernah aku lihat wajahnya, berlinanganlah air mataku karena menyesal dan menyayangkan kejahatan yang telah aku lakukan sendiri terhadap diriku sehingga terjerumus ke dalam jebakan-jebakan yang aku tidak tahu kapan akan berakhir. Semua apa yang aku harapkan sekarang hanyalah ampunan Allah atas segala dosa-dosaku sebab rahmat nya sangat luas dan diatas segala sesuatu.

(SUMBER: Qashash Wa Mawâqif Dzât ‘Ibar, disusun oleh ‘Adil bin Muhammad Ali ‘Abdul ‘Aliy, h.21-24, sebagai dinukil dari Harian ‘Okâzh, Vol.30)

Siapakah Yang Akan Mengabulkan Doa Orang Yang Berhajat?

Kisah seorang laki-laki yang yang terdepak dari pekerjaannya sehingga membuatnya bersedih hati alang kepalang, kemudian dia meminta pertolongan kepada beberapa orang terkemuka dan tokoh agar memberikan rekomendasi untuknya. Beberapa pintupun sempat diketuknya akan tetapi ada saja aral yang menghalanginya sehingga menambah penyesalan dan kegundahannya.

Atas kehendak Allah, dia bertemu dengan seorang tua yang bijak. Ketika itu, warna kulitnya pucat pasi dan badannya kurus kering akibat kesedihan dan kegundahan yang menimpanya tersebut. Tatkala si orang tua mellihat kondisinya tersebut, ibalah hatinya, lantas bertutur kepadanya,
“Bagaimana dengan kebutuhanmu?.”

“Demi Allah, hingga sekarang hajatku itu belum lagi putus dan sekarang aku masih mencari si fulan untuk bisa berbicara dengannya.” Jawabnya.

“Aku tahu, siapa yang bisa mencarikan solusi buatmu dan menghilangkan kegundahanmu itu.” kata si orang tua.

“Apakah orang yang tuan maksudkan itu punya pengaruh terhadap pejabat si fulan?.” Tanyanya.

“Ya, berpengaruh sekali.” Jawab si orang tua.

“Apakah kamu mengenalnya? Apakah kamu bisa berbicara dengannya?.” Tanya laki-laki itu lagi ingin lebih tahu.

“Ya, aku mengenalnya dan aku bisa melakukannya bahkan kamu sendiri bisa berbicara dengannya.” Kata orang tua.

“Demi Allah, tolong kamu berbicara dengannya, semoga Allah membalas kebaikanmu.” Kata si laki-laki itu lagi.

“Tidak, kamu sajalah yang berbicara langsung dengannya!.” Kata orang tua itu lagi.

“Siapa sih dia?.” Tanya laki-laki itu penasaran.

“Dia-lah Allah,” kata orang tua itu tanpa ragu.

“Hah?.” Sahut laki-laki itu sembari tercengang…

“Allah berfirman, “Dan Rabb kamu berkata, ‘Mintalah pada-Ku, niscaya Aku akan perkenankan untukmu’.” Takutlah kamu pada Allah, sebab andai aku katakan kepadamu, ‘Manusia si Fulan dan si Fulan, kamu cepat-cepat katakan, ‘Ayo.’ Tetapi bila aku katakan kepadamu, ‘Allah’ kamu malah menjawab, “Hah?.” Lupakah kamu untuk berdoa kepada Allah?. Tidakkah kamu coba dulu berdoa pada saat-saat penghujung malam? Kamu sudah mencoba meminta kepada para hamba, sekarang cobalah minta kepada Rabbnya para hamba itu!.” kata orang tua itu mengingatkan.

Akhirnya, laki-laki itu meninggalkan si orang tua sementara ucapannya barusan masih terngiang-ngiang di kedua gendang telinganya. Dia telah merasa yakin bahwa kemudahan akan segera datang dari Allah. Laki-laki inipun berlalu menuju rumahnya dan tidur dengan harapan besok mendapatkan kemudahan itu. Dia berkata, “Tatkala aku sedang tidur itu, tiba-tiba seakan ada seorang laki-laki membangunkanku, lalu aku mengerjakan shalat, memohon kepada Allah, memohon perlindungan-Nya dan seakan-akan aku melihat-Nya. Begitu pagi hari, aku pergi melalui jalan yang tidak biasa aku tempuh. Aku melewati sebuah perusahaan yang menarik perhatianku sehingga aku berhenti sejenak di sampingnya. Lalu aku bertanya perihal lowongan yang masih kosong di situ. Ternyata, direkturnya menyongsongku dengan hangat dan menyambut kedatanganku sembari berkata, ‘sejak lama, kami mencari orang seperti kamu ini!.”

Akhirnya aku diterima bekerja untuk pekerjaan yang belum pernah terbayangkan olehku selama ini. Segala puji hanya bagi Allah.

Demikianlah kemudahan itu datang bagi hamba-Nya setelah mengalami kesulitan, bertawakkal serta berdoa kepada-Nya dengan doa orang-orang yang berhajat.

(SUMBER: Qashash wa Mawâqif Dzât ‘ibar karya ‘Adil bin Muhammad Al ‘Abdul ‘Ali, h.13-14, sebagai dinukil dari ceramah Syaikh. Muhammad asy-Syinqîthiy berjudul al-I’tishâm Billâh)