Senin, 28 Januari 2013

Akhirnya Dia Mati Seperti Keledai

Kisah ini terjadi di Universitas 'Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan dieksposs oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana. 

Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu fakultas di negara Arab (Mesir-red.,), berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, "Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!." 

Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut. Menit demi menitpun berjalan dengan cepat hingga tibalah menit keenampuluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut. Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya, sang mahasiswa ini berkacak pinggang, penuh dengan kesombongan dan tantangan sembari berkata kepada rekan-rekannya, "Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa saya?." Para mahasiswapun pulang ke rumah masing-masing. Diantara mereka ada yang tergoda bisikan syaithan sehingga beranggapan, "Sesunguhnya Allah hanya menundanya karena hikmah-Nya di balik itu." Akan tetapi ada pula diantara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya.

Sementara si mahasiswa yang lancang tadi, pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan, berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil 'aqly yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan; tidak mengenal Rabb, tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab.
Dia masuk rumah dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan. Karenanya, sang anak ini bergegas sebentar ke 'Wastapel' di dapur. Dia berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya dengan tissue. Tatkala sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba dia terjatuh dan tersungkur di situ, lalu tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.

Yah…dia benar-benar sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya!!. 
Mengenai hal ini, Dr.'Abdur Razzaq Nawfal -rahimahullah- berkata, "Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai!."

Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati?!!!.

(Sumber: Majalah "al-Majallah", volume bulan Shafar 1423 H sebagai yang dinukil oleh Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy dalam bukunya "Nihâyah azh-Zhâlimîn", Seri ke-9, h.73-74)

Kondisinya Persis Seperti Yang Didoakan Terhadapnya

Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, Sa'id bin Zaid -salah seorang dari sepuluh orang yang diberitakan Rasulullah masuk surga- mengalami suatu kejadian yang membuat penduduk Yatsrib (Madinah) sejak dulu hingga kini masih memperbincangkan dan mengenangnya.

Yaitu kisah Arwa binti Uwais yang mengklaim bahwa Sa'id bin Zaid telah mencaplok sebagian dari tanahnya. Ia lantas menyebar-nyebarkan berita kepada setiap orang. Tak berapa lama, perkaranya sampai kepada Marwan bin al-Hakam, penguasa Madinah kala itu. lalu Marwan mengirim utusan agar mengatakan tentang hal itu kepada Sa'id. Maka, terbebanilah pikiran shahabat Rasulullah ini sembari berkata, 

"Mereka mengira akulah yang menzhaliminya! Padahal aku telah mendengar Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda (artinya),
'Barangsiapa mencaplok sebidang tanah secara zhalim, maka dia akan dihimpit (dikalungkan) dari tujuh lapis bumi pada hari Kiamat.' (HR.Muslim)

Ya Allah, sesungguhnya dia mengklaim bahwa aku telah menzhaliminya. Jika dia berdusta, maka butakanlah penglihatannya dan lemparkanlah di sumur yang dipermasalahkannya terhadapku serta tampakkanlah cahaya pada tanah yang menjadi hakku sehingga menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwa aku tidak pernah menzhaliminya."

Maka tidak berapa dari itu, meluaplah lembah 'Aqîq yang belum pernah terjadi seperti itu sebelumnya, lalu tersingkaplah batas tanah yang diperselisihkan keduanya dan tampak pulalah bagi kaum Muslimin bahwa Sa'id berada di pihak yang benar.

Dan tak berapa dari itu pula, lebih kurang sebulan kemudian, Arwa benar-benar menjadi buta. Kemudian tatkala dia sedang berkeliling di tanah yang diperselisihkannya itu, tiba-tiba dia terjatuh di sumurnya tersebut.

'Abdullah bin 'Umar berkata, "Ketika kami masih kecil, kami sering mendengar seseorang berkata kepada yang lainnya, 'Semoga Allah membutakanmu sebagaimana Dia membutakan Arwa'.

Tentunya kejadian seperti itu tidaklah aneh, sebab Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda (artinya),
"Takutlah doa orang yang teraniaya/dizhalimi, karena sesungguhnya antara doa tersebut dan Allah tidak terdapat penghalang." (HR.Muslim)

Nah, apa lagi bila yang dizhalimi itu Sa'id bin Zaid, salah seorang dari sepuluh orang yang sudah dijamin masuk surga, apa jadinya????.

(SUMBER: Kitab Nihâyah azh-Zhâlimîn, karya Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy, Juz.I, h.20-22)

Kisah Maling Yang Tobat

Al-Qâdly at-Tannûkhiy berkata, "Seorang mantan maling yang sudah bertaubat menceritakan kepadaku, 'Suatu ketika aku singgah di sebuah kota, aku berniat mencuri sesuatu di sana, lalu mataku tertuju pada seorang pedagang VALAS (Valuta Asing) yang hidupnya berkecukupan. Aku mencari akal bagaimana bisa mencuri darinya hingga akhirnya berhasil mencuri sebuah kantong uang miliknya, lalu aku menyelinap. Tapi, tak berapa jauh, aku bertemu seorang nenek nan sudah renta bersama seekor anjingnya. Aku merasakan dadaku berdetak karena si nenek ini bersikap cemberut terhadapku dan seakan memaksa.

Dia berkata, 'Wahai cucuku, apa yang telah kau lakukan. Lihatlah anjing ini menggonggong dan bergelantung kepadaku!.' Lalu orang-orang ramai memandang ke arah kami.
Akhirnya, si nenek itu berkata kepada khalayak, 'Ayo, lihatlah ke arah anjing ini. Dia telah mengenal orang ini.'

Orang-orangpun tertegun dengan kejadian itu sementara aku menjadi semakin bimbang sembari berkata di dalam hati, 'jangan-jangan nenek inilah yang menyusuiku dulu sementara aku tidak mengenalnya!.'

Si nenek kemudian berkata, 'Ayolah ikut aku, tinggallah di rumahku hari ini.'
Dia tidak beranjak dariku hingga akhirnya aku pergi bersamanya menuju rumahnya. Ternyata di sana banyak sekali anak-anak muda yang sedang minum. Mereka memegangi banyak sekali buah-buahan di tangan mereka. Mereka menyambut kedatanganku, mengajakku ke dekat mereka dan menyuruhku duduk bersama mereka.

Aku melihat mereka berpakaian dengan pakaian yang bagus, lalu aku memfokuskan mataku kepadanya. Untuk menenangkan diri, aku menyediakan minuman untuk mereka hingga akhirnya mereka tertidur dan semua orang yang berada di rumah itu tertidur. Lalu aku bangun dan mempreteli semua apa yang mereka miliki satu-persatu, kemudian kabur. Namun tiba-tiba anjing menerkamku seakan singa yang ganas, ia menggonggong, berbolak-balik ke sana kemari sembari terus menggonggong hingga semua orang yang tidur terjaga. Aku menjadi malu dan sangat malu karenanya.

Begitu siang tiba, aku melakukan lagi apa yang pernah aku lakukan kemarin dan juga aku berbuat terhadap mereka dengan hal yang sama. Aku terus mencari siasat licik untuk mengecoh si anjing hingga malam tiba, namun aku mendapatkan ide apapun.

Tatkala mereka sudah tertidur, aku ingin melakukan hal yang biasa aku lakukan, tiba-tiba si anjing menghadangku seperti yang pernah dilakukannya sebelumnya terhadapku. Sementara aku terus melakukan perbuatan licik itu selama tiga malam. Manakala aku merasa frustasi, aku memohon diberi izin untuk keluar dari rumah itu.

Aku berkata, "Apakah kalian mengizinkanku, karena aku sangat tergesa-gesa sekali."
Mereka menjawab, "Hal itu terserah kepada si nenek tua."

Lalu aku meminta izin kepadanya, maka dia berkata, "Berikan kepadaku apa yang telah engkau curi dari pedagang VALAS itu, lalu pergilah kemana yang engkau suka dan jangan pernah menginjakkan kaki di kota ini lagi karena sesungguhnya tidak suatu pekerjaanpun yang dapat dilakukan seseorang selama aku ada di sini."

Lantas dia mengambil kantong yang aku curi tersebut dan mengusirku. Aku berhasil meraih cita-citaku untuk terlepas dari cengkeramannya.

Aku berusaha meminta pesangon darinya, lalu dia memberikannya kepadaku dan keluar bersamaku hingga akhirnya mengusirkku dari kota itu sementara si anjing masih setia bersamanya. Akupun melewati perbatasan kota itu.

Aku berhenti sejenak, kemudian berlalu sementara si anjing membuntutiku hingga aku menjauh kemudian ia pulang sembari melihat ke arahku dan menoleh. Aku juga melihat ke arahnya hingga ia hilang dari pandangan mataku."

(SUMBER: Nihâyah azh-Zhâlimîn karya Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy, Juz.I, h.53-56 sebagai yang dinukilnya dari kitab al-Azkiyâ` karya Ibn al-Jawziy, h.188)

Kecerdikan Abu Ja’far Al-Manshur

Suatu ketika Abu Ja'far, 'Abdullah bin Manshur, seorang khalifah, sedang duduk-duduk di salah satu kubah kota al-Manshur di 'Iraq. Tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki yang sedang sedih dan bolak-balik ke sana- kemari di sepanjang jalan. Lalu dia mengirimkan utusan untuk menemuinya dan menanyakan kondisinya.

Maka orang tersebut menceritakan bahwa pernah suatu hari dia pergi berbisnis dan mendapatkan keuntungan yang besar sekali. Setelah itu, dia kembali membawa hasil keuntungan tersebut kepada sang isteri dan menyerahkan semua uang dinar kepadanya. Namun kemudian, kisahya, isterinya tersebut mengatakan kepadanya bahwa semua uang tersebut telah dicuri orang dari rumah, padahal setelah dia meneliti, tidak ada satupun bekas lobang atau sesuatu yang terbongkar di rumahnya.

Lantas berkatalah al-Manshur kepadanya, "Sejak kapan kamu menikah dengannya?"
"Setahun yang lalu." Jawabnya
"Saat kamu nikahi, dia masih perawan atau sudah janda?", tanyanya lagi
"Sudah janda." Jawabnya
"Masih muda atau sudah berumur?." Tanya al-Manshur lagi
"Masih muda." Jawabnya pula

Tak berapa lama kemudian, al-Manshur mengambil sebuah botol berisi parfum yang demikian semerbak aromanya seraya berkata kepada orang tersebut, "Pakailah ini, pasti akan hilang semua kegelisahanmu."
Lalu orang itu mengambilnya dan membawanya pulang.

Setelah orang tersebut berlalu, al-Manshur berkata kepada para pengawal pilihannya, "Duduklah kalian di dekat pintu-pintu masuk kota ini. Siapa saja yang melintasi kalian dan tercium dari tubuhnya semerbak aroma parfum tadi, maka bawalah dia kemari.!!"

Sementara orang tadi sudah sampai di rumahnya dan segera menyerahkan parfum tersebut kepada sang isteri sembari berkata, "Ini ada parfum bagus, hadiah dari Amirul Mukminin!."

Tatkala menciumnya, sang isteri ini demikian takjub dan terpikat dengannya, lalu sertamerta dia membawa parfum tersebut kepada seorang laki-laki, kekasih gelap yang dia cintai. Kepada orang inilah, dia menyerahkan semua uang dinar yang hilang itu. si perempuan ini berkata kepadanya, "Pakailah parfum yang bagus ini!."

Tanpa rasa curiga dan pikir panjang lagi, kekasih gelapnya ini langsung memakainya, dan pergi melintasi sebagian pintu kota. Akhirnya, dari tubuhnya tersebut terciumlah semerbak aroma parfum sang khalifah itu. Karenanya, diapun kemudian diciduk oleh para pengawal istana dan dibawa menghadap al-Manshur.

Setibanya di istana, al-Manshur bertanya kepadanya,
"Dari mana kamu dapatkan parfum ini?." Ternyata orang ini tidak dapat bersikap tenang dan terbata-bata di dalam menjawabnya. Melihat gelagat seperti ini, maka al-Manshur langsung menyerahkannya kepada polisi sembari memberikan titah,
"Jika dia mau menghadirkan sekian dan sekian dinar yang dicurinya, maka ambillah darinya. Bila dia tidak mau, maka cambuklah dia seribu kali cambukan!!!."

Tak lama kemudian, pakaiannya dilucuti untuk dicambuk sembari diancam, hingga akhirnya dia mengaku dan berjanji akan mengembalikan uang dinar yang dicurinya itu. Kemudian dia menghadirkan uang tersebut seperti sediakala, tidak kurang sepeserpun.

Setelah itu, al-Manshur diberitahu perihal tersebut, lantas si empunya uang dinar tersebut dipanggil lagi untuk menghadap. Ketika dia sudah datang, al-Manshur berkata kepadanya,
"Bagaimana pendapatmu, bila aku berhasil mengembalikan semua uangmu yang hilang, apakah kamu setuju aku yang akan menjatuhkan vonis terhadap isterimu?."

"Baiklah, wahai Amirul Mukminin." Katanya
"Ini semua uang dinarmu tersebut dan aku juga telah menceraikan isterimu itu darimu.!" Kata Amirul Mukminin, al-Manshur.
Setelah itu, sang khalifah yang cerdik ini mengisahkan kepada orang tersebut kronologis ceritanya.

(SUMBER: Nihâyah azh-Zhâlimîn, karya Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy, Juz.I, h.88-90 sebagai yang dinukilnya dari buku Tsamarât al-Awrâq karya al-Hamawiy, h.142)